essay

I wrote this as an entry for Jakarta Governor Office Internship Program. It brought me into one of eighty applicant out of three thousand people}

Marhaen
essai oleh Ayrine Claudya S

Kota yang kutinggali kini tak ramah lagi
Orang yang kulihat tak ada senyum menghiasi
Disini aku lahir
Kota yang kukenali kini merobek hati.
dinyanyikan dengan kentrung oleh seorang pengamen muda
di angkutan umum Jakarta.


Kutipan diatas adalah sebuah lagu yang saya dengar dinyanyikan oleh seorang pengamen sewaktu saya sedang berada di dalam angkutan umum menuju stasiun Palmerah, Jakarta Barat. Saya berasumsi bahwa lagu tersebut adalah ciptaannya sendiri. Saat mendengarnya saya langsung mencatatnya dalam notes telefon genggam saya. Takut lupa. Seperti beberapa warga Jakarta yang hari-hari ini lupa tersenyum sehingga membuat diri mereka masuk menjadi bagian dari lirik seorang observan yang jago bermain kentrung.
Saya terkadang bertanya-tanya apa istimewanya Jakarta? Seperti mengapa ia memiliki posisi yang begitu spesial di hati pemimpin awal republik? Untuk mendukung opini saya, saya akan mengutip pidato mantan presiden pertama Indonesia, Sukarno sekembalinya beliau dari pengasingannya di Brastagi, 1949
“Ini hari aku telah menginjak lagi bumi Jakarta setelah hampir empat tahun lamanya tidak ada disini. Empat kali 365 hari saya berpisah dengan rakyat Jakarta laksana rasanya seperti empat puluh tahun saudara-saudara”
67 Tahun yang lalu, jauh sebelum Jakarta menjadi metropolitan, jauh sebelum Jakarta Bypass dan stadion Gelora Bung Karno didirikan, bahkan saat Hang Lekir masih nyaman digunakan untuk sebuah keluarga kecil lari pagi atau piknik diatas rerumputan. 67 Tahun dan saat ini 2016 pada kenyataannya Ibu Kota masih begitu dicintai. Saya merasa tidak perlu untuk menampilkan statistik jumlah penduduk Jakarta yang semakin meningkat setiap tahun untuk menunjukan bagaimana banyak orang masih mencintai Jakarta, saya lebih suka untuk menyisipkan jawaban seorang Ibu yang saya temui di bus 102 menuju slipi beberapa minggu yang lalu saat saya bertanya sederhana bagaimana yang beliau rasakan terhadap Jakarta?
kali itu kiri dan kanan kami adalah polusi, kendaraan bermotor adu klakson, pejalan kaki bermasker dan angkutan umum berhenti di tepi jalan selayaknya parkir di halaman rumah sendiri. Namun ibu ini tetap tersenyum dan berkata “Saya dapat menyebutkan ratusan kota lain yang lebih baik daripada Jakarta, namun sekali kamu tinggal disini, kamu tidak akan pergi, karena tidak ada Jakarta didalam ratusan yang lain itu”
Saya cukup tertegun dan sekarang mulai membayangkan bahwa sang pengamen muda dengan kentrung seharusnya bertemu Ibu ini. Dia setidaknya tersenyum. 


Saya suka memetakan bagaimana pendapat beberapa jenis orang dari beragam profesi tentang bagaimana mereka melihat Jakarta didalam pikiran saya. Saya membayangkan perwujudan impian tiap marhaen dalam kota Jakarta secara konseptual didalam otak saya. Dan bagaimana setelah itu saya mengingatkan diri saya sendiri bagaimana mustahilnya konsep tersebut dapat terwujud.

Konsep 1:
Terlihat dalam foto-foto diatas. Kedua foto ini saya ambil pada saat saya melakukan survey tugas perkuliahan arsitektur saya di Kawasan Pecinan Jakarta tepatnya di pasar Asemka. Namun masih tepatkah mereka disebut marhaen? Saya bertanya-tanya dan mungkin pembaca dapat mengoreksi saya. Dalam konseptual saya, Saya membayangkan bapak dalam foto pertama dapat menggunakan sepeda dari becak dibelakangnya untuk disambungkan dengan gerobaknya sehingga Ia tidak perlu bejalan kaki, dan bukannya mengambil barang bekas, bapak ini bisa menjadi pengantar buku-buku yang akan dijual di depan ruko Asemka di foto yang kedua. Dan sambil menjadi pengantar, Ia dapat mencuri baca beberapa buku sehingga akhirnya dia bisa mendapatkan cara yang lebih baik menggabungkan sepeda dengan gerobak sehingga ia membuatkan juga untuk beberapa temannya dan terus berputar menjadi siklus yang menanjak.
Walaupun pada kenyataannya bapak ini sudah hampir 20 tahun menjadi pemulung. Saya seringkali membayangkan bagaimana hidup seseorang dapat menjadi begitu berbeda dengan konseptual permainan kejadian.
Konsep 2:
 

Saya pernah mengambil mata kuliah Arsitektur Perkotaan. Dan walaupun sudah lama berlalu saya terus mengingat bagaimana perasaan saya saat mempelajari beberapa sejarah dan tipologi kota-kota didunia dan bagaimana saat itu saya langsung berangan-angan tinggal di kota ideal. Kedua gambar diatas adalah studi kasus Pasar Kebayoran Lama.
Cerita lama tentang bagaimana pasar, polusi dan kemacetan menjadi cinta segitiga. Salah satu sub judul buku tebal kota Jakarta. Dengan konseptual kejadian saya membayangkannya secara grafis bagaimana pasar dapat berpindah walaupun ini artinya memutus cinta segitiga, mari kita mencobanya terlebih dahulu:


Sederhana: memutus cinta dengan cara memindahkan pasar keatas, memberi ruang bagi angkutan umum yang ingin parkir ditepi jalan selayaknya di depan halaman rumah sendiri. Dengan kata lain barang dan bahan pangan yang dijual dipasar pun tidak perlu terkontaminasi dengan polusi kendaraan.
Kedua konsep diatas merupakan beberapa yang saya pikirkan dengan penuh perasaan yang sedikit tidak karuan. Saya melihat pantulan diri saya dicermin tadi pagi sehabis mandi sebelum menulis essai ini. Apa yang sudah saya perbuat? Namun berapa banyak yang sudah saya keluhkan?
Beberapa kata yang muncul di otak saya untuk menggambarkan Jakarta adalah: Organik, Warna, Sesak, Marhaen, Terkonsep dan Gandrung. Saya menutup dengan satu kalimat: Saya ingin jatuh cinta lagi terhadap Ibu Kota, 
dan saya rasa 750 kata saya habis pada kalimat ini…

No comments:

Post a Comment

thank you ☺